Tampilkan postingan dengan label POV. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label POV. Tampilkan semua postingan

5 Desember 2011

Suka, Sayang, Cinta sampai Nafsu itu Ternyata Beda

  • Ketika kau MENYUKAI seseorang, kau ingin memilikinya untuk keegoisanmu sendiri.
  • Saat kau MENYAYANGI seseorang, kau ingin sekali membuatnya bahagia dan bukan untuk dirimu sendiri.
  • Saat kau MENCINTAI seseorang, kau akan melakukan apapun untuk kebahagiaannya walaupun kau harus mengorbankan jiwamu.
  • Saat kau NAFSU ama seseorang, kau akan melakukan apapun untuk tidur bersamanya

Saat kau menyukai seseorang dan berada disisinya maka kau akan bertanya,”Bolehkah aku menciummu?” Saat kau menyayangi seseorang dan berada disisinya maka kau akan bertanya,”Bolehkah aku memelukmu?”
Saat kau mencintai seseorang dan berada disisinya maka kau akan menggenggam erat tangannya…
Saat kau nafsu dengan seseorang dan berada disisinya maka kau akan bertanya,”Do you wanna sex?”

  • SUKA adalah saat ia menangis, kau akan berkata “Sudahlah, jgn menangis.”
  • SAYANG adalah saat ia menangis dan kau akan menangis bersamanya.
  • CINTA adalah saat ia menangis dan kau akan membiarkannya menangis dipundakmu Sambil berkata, “Mari kita selesaikan masalah ini bersama-sama.”
  • NAFSU adalah saat ia menangis dan kau akan membiarkannya menangis dipundakmu Sambil berkata, “Mari kita selesaikan masalah ini DI RANJANG.”

  • SUKA adalah saat kau melihatnya kau akan berkata,”Ia sangat cantik dan menawan.”
  • SAYANG adalah saat kau melihatnya kau akan melihatnya dari hatimu dan bukan matamu.
  • CINTA adalah saat kau melihatnya kau akan berkata,”Bagiku dia adalah anugerah terindah yang pernah Tuhan berikan padaku..”
  • NAFSU adalah saat kau melihatnya kau akan berkata,”Oh goddamn! beautiful boobs!!!”

  • Pada saat orang yang kau suka menyakitimu,maka kau akan marah dan tak mau lagi bicara padanya.
  • Pada saat orang yang kau sayang menyakitimu,engkau akan menangis untuknya.
  • Pada saat orang yang kau cintai menyakitimu,kau akan berkata,”Tak apa dia hanya tak tau apa yang dia lakukan.”
  • Pada saat orang yang kau nafsuin menyakitimu,kau akan berkata,”bodo amat, masi banyak jablai yang laen.” / ”yang penting ane udah prnah ngrasain...”

Pada saat kau suka padanya, kau akan MEMAKSANYA untuk menyukaimu.
Pada saat kau sayang padanya, kau akan MEMBIARKANNYA MEMILIH.
Pada saat kau cinta padanya, kau akan selalu MENANTINYA dengan setia dan tulus…
Pada saat kau nafsu padanya, kau akan MEMAKSANYA untuk handjob samapi blowjob kamu

  • SUKA adalah kau akan menemaninya bila itu menguntungkan.
  • SAYANG adalah kau akan menemaninya di saat dia membutuhkan.
  • CINTA adalah kau akan menemaninya di saat bagaimana keadaanmu.
  • NAFSU adalah kau akan menemaninya di saat lagi horny dan nafsu diubun-ubun serasa mau meledak.


* *SUKA adalah hal yang menuntut.
* *SAYANG adalah hal memberi dan menerima.
* *CINTA adalah hal yang memberi dengan rela
* *NAFSU adalah hal yang manusiawi


1 Agustus 2011

Martabak ya Trangbulan Marhaban ya Ramadhan

Martabak ya Trangbulan Marhaban ya Ramadhan...

Salam untuk mengawali bulan puasa tahun 2011 Masehi atau 1432 Hijriyah.
Mungkin sangat luar biasa pada tahun ini hari pertama puasa tepat pada tanggal 1; 1 Agustus 2011 dan bisa dihitung tepat 30 hari penuh (pun kalau tak ada kontroversi :D). Bukankah itu suatu berkah, rahmah... hehehe...

Sepertinya pada tahun ini akan lancar-lancar saja dalam bulan ramadhan, mengapa? Karena tidak ada berita kontroversial mengenai "balap puasa" (istilah sendiri ini). Apa itu "balap puasa"? Menurut, "balap puasa" adalah penentuan waktu puasa atau isbat (mohon maaf kalau salah, ga trlalu paham) yang menjadi debat, contohnya "Group saya puasanya besok saja, bulannya belum tepat kok," "Menurutku hari ini sudah harus puasa lho pak??? Masa puasanya cuma setengah hari???"
seperti itu kan justru menjadi perdebatan, entah masyarakat kita yang suka berdebat. Namun hal tersebut sepertinya menjadi pelajaran untuk menghargai perbedaan dan menguji pertahanan amarah.

Hari ini masih hari pertama, mungkin bagi para pelaku puasa yang belum begitu terbiasa rasanya sangat menderita, "aaa... laperrr beudt nich..." (ambil bahasa alay, soalnya yg kaya gni biasanya para ababil). Tetapi bagi yang terbiasa puasa [entah itu puasa sunnah atau memang puasa karna kesederhanaan diri (penulis bngt yg ni, hehe)] mereka akan mencari aktivitas yang menurutnya menyenangkan pastinya tak membosankan, misal: nge-game, nge-blog, ngaskus gan... atau barangkali justru masak buat buka... ni aktivitas yang sangat penuh ujian, pikir saja sendiri. Untuk para lazier mungkin tidur abis subuhan tuh jadi alternatif, berdalih "tidur kan ibadah kalau di bulan ramadhan," ya tak apalah Maha Pengasih lagi Penyayang.

Masih lama ini, baru start aja udah mengeluh... Semangat dong... Kata Bang Haji Rhoma kan "bersusah-susah dahulu, senang kemudia-a-an..." Puasa-puasa dahulu, lebaran kemudian... Berkahnya di sini-ni...

Sampai jumpa lebaran nanti ya... Selamat menunaikan puasa Ramadhan 1432H dulu ya...

26 Juni 2011

Review

Teks: Review (Ulasan atau tinjauan)

1. Ciri Umum:
    (a) Tujuan Komunikatif Teks:
         Melakukan kritik terhadap peristiwa atau karya seni untuk pembaca atau pendengar khalayak ramai, misalnya film, pertunjukan, buku, dll.
    (b) Struktur Teks:
         • Pengenalan;(orientation)
         • Evaluasi 1;
         • Evaluasi 2;
         • Tafsir;(Interpretive)
         • Evaluasi 3;
         • Evaluasi 4, dsb. Jika ada;
         • Rangkuman.(Evaluative Summation)
    (c) Ciri Kebahasaan:
         • Terfokus pada partisipan tertentu;
            Menggunakan:
             • adjectives menunjukkan sikap, seperti bad, good;
             • klausa panjang dan kompleks;
             • metafor.


2. Contoh dan Struktur Teks:
    Harry Potter: Order of the Phoenix

Pengenalan / Orientasi
I absolutely love the Harry Potter series, and all of the books will always hold a special place in my heart.

Evaluasi :
I have to say that of all the books, however, this one was not my favorite.

Evaluasi 2 :
When the series began it was as much of a “feel good” experience as a huge mug of hot cocoa. The stories were bright, fast-paced, intriguing, and ultimately satisfying.

Tafsiran (Interpretative recount) :
Order of the Phoenix is a different kind of book. In some instances this works…you feel a whole new level of intensity and excitement by the time you get to the end. I was truly moved by the last page. Other times the book just has a slightly dreary, depressing feel. The galloping pace of the other books has slowed to a trot here, and parts of it do seem long, as if we’re reading all about Harry “just hanging out” instead of having his usual adventures. Reading in detail about Harry cleaning up an old house, for example – housekeeping is still housekeeping, magical or no, and I’m not very interested in doing it or reading about other people doing it.

Rangkuman :
A few other changes in this book – the “real” world comes much more in to play rather than the fantasy universe of the previous books, and Harry has apparently been taken off his meds. I know that he had a lot to be grumpy in this book, especially with being a teenager and all, but the sudden change in his character seemed too drastic. He goes from being a warm-hearted, considerate person to someone who will bite his best friend’s heads off over nothing. It just seemed like it didn’t fit with his character, like he turned into a walking cliché of the “angry teen” overnight.
The “real” story seemed to happen in the last 1/3 of the book, and this part I loved. I actually liked the ending (and yes, I cried!) as sad as it was. It packed a punch and it made me care about the story even more. Still a really good book, with some editing it would have been great.

15 Juni 2011

Melawan Arus

Sebelumnya pernah beranggapan bahwa berpikir berbeda dari yang lain itu akan memberikan perubahan yang lebih baik, soalnya berpikir berbeda tentu saja untuk menuju yang lebih baik. Berharap pikiran yang beda itu akan sepenuhnya diterima. Namun belum tentu akan seabsolut yang dibayangkan.
Justru terkucilkan kalau melawan arus, bahasanya termarjinalkan, bila memiliki pemikiran berbeda.
Orang lain mungkin bilang, "Ah, opo sok mbedani," dan mereka-mereka menganggap pembeda adalah pengkhianat.
Apakah selamanya melawan arus pikiran yang ada akan terkucilkan??? Tapi sebenarnya ikuti saja apa yang akan dijalani selama itu lebih baik untuk dirasakan diri sendiri, mungkin dengan begitu mereka akan melihat perkembangan dari pembeda tersebut.

12 Juni 2011

Apa Jenis Kelamin Komputer atau Laptop Anda?

Seperti layaknya manusia yang diciptakan dengan jenis kelamin, komputer juga demikian, mau buktinya?
Begini caranya:

1. Buka Notepad (Start-programs-accesories-notepad)
2. Isikan/ketik code: CreateObject("SAPI.SpVoice").Speak"I Love You"
3. Save file tersebut dengan nama xyz.vbs (Save as, file name: xyz.vbs, save as type: all files, Save)
4. Jalankan/klik dua kali file yang tadi kamu buat
5. Akan terdengar suara pria atau wanita dari komputer atau laptop anda.

Selamat mencoba sobat blogger...

Komputer aku sih cowo sob... bukan berarti maho!
hkhkhkhkhkhkhk...

11 Juni 2011

Kemudahan Teknologi

Zaman sekarang ini bisa dikata zaman teknologi yang maju pesat... Banyak gadget-gadget canggih dan bisa terkoneksi dengan INTERNET. Zaman kini juga bisa disebut zaman internet, karena semua dihubung-hubungkan dengan internet.
Salah satunya ini, blog, mungkin blog bisa dijadikan diary, catatan harian, sumber ilmu dan sbagainya, dan semacamnya. Sekarang banyak teman-teman yang sudah punya blog sendiri, dengan gratis kita mendaftar akun blog jadi mudah kan??? Selama gratis pasti diserbu... Namun dengan mencantumkan domain penyedia blognya. Ada juga yang berbayar, kita bisa membuat domain sendiri.

Ya mungkin itulah secuil atau salah satu kemudahan teknologi.

NII x Nietzche

Ibu Peritiwi berzikir! Sebut Negara 17 kali, Islam 8 kali dan Indonesia 45 kali, terus terusan, terus menerus. Kenapa? NII-gerakan politik yang diproklamasikan 12 Syawal 1368 oleh SM Kartosoewirjo-kembali menjadi gonjang-ganjing politik kebudayaan Indonesia. Sebagai ibu, Pertiwi ogah negara ini cuma makhluk goro-goro. Indonesia itu kudu ajeg, mantep dan top markotop! Harap maklum, seperti ditulis Harry Ecstein ‘In the Science of the state’, 1979. “Dalam dunia modern yang anomik, negara dan idenya merupakan fiksi yang dibutuhkan.
NII diada-adakan, apa harus ada? Saya hanya bisa tertawa. Aneh yang nyeleneh, ketika bumi Tuhan ini dikapling-kapling atas nama nation passion yang diatasnya berkibar logika Negara Islam. Padahal NKRI saja kerap gagal mengaktualisasikan diri menjadi ‘tangan tersembunyi’ penyelamat bangsa. Bahkan, otoritas sentral ini pada dekade Soekarno hingga Suharto, misalnya, menjadi amat superior despostis. Era itu kedaulatan tertinggi hanya ada pada negara. Kekuasaan diposisikan semata-mata sebagai substansi otoritas logika. Tak aneh manakala dalam dialog teologi kultural, Mohammad Roem, Dr. M Amin Rais hingga Nurcholish Madjid menolak adanya NII. “Tidak ada dalam Islam untuk menegakkan negara Islam,”ungkap Amien Rais (Panjimas No.379 Safar 1403 H)
Tak pelak, Negara sekuler lebih memosisikan diri sebagai logika pamayung kedaulatan sekaligus hakim tertinggi terhadap apa yang didiktekan akal, alam dan Tuhan! “Raja juga merupakan otoritas tertinggi menyangkut hukum Tuhan.” tulis Hobbes, Leviathan (1968 :h.369ff). Artinya, negara memosisikan kekuasaan sejenis genita ajaib yang menciptakan ‘hukum-hukumnya’nya sendiri di luar moralitas konvensional dan agama. Negara lahir dan mengalir memetamorforsa secara alamiah. Ia tumbuh dari tatanan sosial. Dan perlu. Soalnya, tanpa otoritas sentral dan otoritas tak tersaingi, masyarakat akan hancur oleh peperangan yang tiada hentinya. Tak aneh, bila pemuja negara model beginian telah mendemistifikasikan negara sekaligus mengingkari adanya legitimasi Tuhan serta ajaran moral.
Ikhwal ini, dinilai para pemuja NII laksana kunci linglung yang mangmung yang cuma melahirkan otoriter absolut. Konon, ketika jaman masih disemangati cahaya reliji yang teduh, tak sedikit masyarakat yang lebih nyaman hidup tanpa negara dibandingkan memasyarakat dalam todongan otoriter penguasa despotis. Ini mirip pemikiran John Locke (1632-1704) “Negara harus dibatasi wilayahnya dan didesak dalam praktiknya agar menjamin kemerdekaan maksimum setiap penduduk.”
Tak jelas apakah tuturan Locke menginspirasi lahirnya pemikiran seputar NII. Yang tercatat sejarah, ternyata kelompok utilitarian abad ke-17 dan 18 seperti John Stuart Mill, misalnya mensakralkan kemerdekaan dan hak-hak asasi manusia sekaligus mensterilkan tangan negara dari darah, tirani dan kebringasan totaliter. Ini didapat bila cahaya imani telah menjadi substasi ruh negara. Negara tidak sekedar suara Tuhan, tetapi Tuhan itu sendiri. Tuhan, sang Jiwa menyatakan diri-Nya dalam sejarah dan negara merupakan tujuan dari sejarah. “Negara itu tercipta dari bentangan jiwa yang mensejarah, “ungkap Georg Wilhelm Friederch Hegel (1967), “Maka negara adalah penjelmaan kehendak Tuhan.”
Suara Hegel di bawah lanskap cahaya reliji itu menjadi suara sejarah yang kerap dijiarahi penghamba politik ketuhanan. Ia memikroskop negara dengan mata batin yang jernih. Fantasia Hegel yang fantastis! Dan sejarah abad ke-18 memberi tempat terhormat buat Hegelian. Terbukti seorang filosuf sekaligus sosiolog Jerman, Max Weber di abad ke-19, misalnya merevitalisasi orasi rasional Hegelian sekaligus mendefinisikan negara lebih signifikan. Definisi negara inilah yang akhirnya melahirkan aliran pluralisme dan Neo-Pluralisme yang mengembalikan teori politik modern ke pangkuan Tuhan.
***
NII tak mustahil cuma karya fiksi ketika luka kultural terselip di lipatan buku sejarah. Adalah satu halaman dari satu buku bernama Indonesia yang sangat luar biasa besar, yang tidak diketahui jumlah halamannya kecuali Allah swt. Maka sangat naïf, ketika tuhan dijerat dan dikibarkan menjadi bendera negara. Terlebih lagi ketika negara berbasis agama itu melintasi aliran sejarah penuh darah.
Emang sich cikal bakal nasionalisme Indonesia bermula dari Nur Islam. Histeria Allah hu Akbar yang dikobarkan para amma-ya’ummu-, sebut saja pembrontakan santri Cerbon tahun 1818 yang kelak menghihami santri-santri Tegalrejo untuk mengadakan pembrontakan 1825-1830 yang lebih dikenal dengan Perang Diponegoro, Haji Oemar Said Tjokroaminoto, pemimpin Syariat Islam canangkan kebangkitan nasional yang dikenal dengan gerakan kerso kuwoso mardik, adalah deret ukur kadar kemerdekaan Indonesia.
Indonesia adalah darah syuhada yang mengalir di hamparan sajadah sejarah, yang dalam sujud malamnya tahu betul makna tersembunyi dari firman Allah “Apakah kamu tidak memperhatikan (penciptaan) Tuhanmu, bagaimana Dia memanjangkan (dan memendekan) bayang-bayang; dan kalau dia menghendaki niscaya dia menjadikan tetap bayang-bayang itu, kemudian Kami jadikan matahari sebagai petunjuk atas bayang-bayang itu, kemudian Kami menarik bayang-bayang itu kepada Kami dengan tarikan yang perlahan-lahan.” (Al Furqan:45-46,)
NII tak mustahil menakwil Indonesia dalam perspektif Firman Allah SWT di atas. Indonesia tidak lebih dari kesementaraan yang tak ajeg. Indonesia adalah Nur, dan Matahari adalah dhiyah. Adalah siluet yang kelak-entah kapan- akan ditarik perlahan-lahan dari garis edarNya.
Tentu itu ijtihad sepihak yang perlu dikaji lebih dalam. Sebab, tiap kali muncul isu NII, selalu saja nalar saya berlari liar menuju tuturan Nietzsche dalam Frochliche Wissenschaft yang hipotesiskan simbolisme orang sinting yang meninting lentera dan berteriak dalam abad-abad gelap: “Apa yang paling suci dan mulia yang pernah dimiliki dunia, kini mengucurkan darah karena pisau kita. Siapa yang harus menghapus darah dari tangan kita ?”

7 Juni 2011

Tuhan Semua Manusia Sama

Manusia yang memiliki keyakinan, dipastikan memiliki tata cara beribadah. Manusia Islam diwajibkan shalat lima kali sehari, atau Kristen, wajib beribadah di hari minggu, Budha atau Hindu juga memiliki tata cara beribadah. Yahudi, konfusian, Tao atau keyakinan apa saja, di mana saja dan kapan saja pasti memiliki tata cara, ritual dan sejenisnya untuk mencapai kekuatan. Mereka sangat yakin, kekuatan itu dapat memberi kedamaian, kesejahteraan, kebaikan, kesuksesan dan nilai-nilai tertinggi lainnya.
Tata cara, ritual, metode, adalah alat/sarana untuk menghantarkan kita kepada tujuan mencapai nilai-nilai tertinggi untuk kedamaian, kesejahteraan, kebaikan, kesuksesan, kesucian, kekuasaan, keindahan, kebijaksanaan, keadilan dan lainnya. Manusia dituntut mentaati tata cara untuk mendapatkan kualitas terbaik dalam menjalankan tata cara tersebut.

Setiap tata cara dilegalkan dalam petunjuk tertulis, kita sebut kitab suci. Dalam agama samawi (Islam, Kristen/Nasrani, Yahudi), diyakini ada sosok manusia telah menerima nilai-nilai tertinggi kemudian atas petunjuknya didokumentasikan menjadi kitab suci. Kitab itu sangat suci, sehingga diyakini sungguh memberi petunjuk atas keselamatan.
Quran, Injil dan Taurat dijadikan rujukan dalam menjalankan kehidupan kemanusiaan, disamping kitab-kitab lainnya. Muhammad, Yesus dan Moses dijadikan panutan pemeluknya. Muhammad, Yesus dan Moses diyakini telah menjalani misi ketuhanan, menerima bahasa tuhan untuk menyelamatkan manusia.
Pemimpin spritual Tibet Dalai Lama misalnya, diyakini penganutnya sebagai inkarnasi (tulku) Buddha of Compassion. Begitupun dengan 13 pemimpin spiritual sebelum Dalai Lama (Tenzin Gyatzo). Dalam ajaran agama Buddha, seorang Bodhisattva (bahasa Sanskerta) atau Bodhisatta (bahasa Pali) atau Photishat (bahasa Thai) adalah makhluk yang mendedikasikan dirinya demi kebahagiaan makhluk semesta. Ajaran yang menganjurkan pemeluknya menuju nirwana, penuh kedamaian, kesejahteraan, kebaikan.

Apapun keyakinan dengan tata cara memahami nilai-nilai tertinggi, maka itu dari manusia menggunakan tata cara mempertautkan nilai-nilai tertinggi dengan sisi kemanusiannya. Keyakinan dan tata cara tersebut kemudian diberi nama, terlembaga dalam jamaah/umat dan pemeluknya. Bukan hanya Islam, Kristen/Nasrani dan Yahudi. Semua keyakinan, dimanapun-kapanpun pasti memiliki tata cara untuk mencapai nilai-nilai tertinggi.

Setelah sampai di sini, ada pertanyaan menggelitik. Apa itu Tuhan? Mungkinkah Tuhan manusia itu sebanyak ribuan bahkan jutaan keyakinan di bumi ini. Tidak masuk akal, ada banyak Tuhan di bumi ini. Andaikata Tuhan itu tidak banyak, tetapi faktanya ada ribuan bahkan jutaan keyakinan di bumi. Agama B dengan kitab sucinya, agama A dengan kitab sucinya. Agama ini dengan Tuhannya, agama itu dengan Tuhannya.
Maka tidak ada jalan lain. Harus ada dialog antar keyakinan untuk mengetahui bagaimana masing-masing meyakini dan memahami Tuhan mereka. Apa tata cara untuk menghadirkan Tuhannya sehingga kehadiran Tuhannya dapat memberi kedamaian, kesejahteraan, kebaikan.
Keterbukaan itu dimaksudkan bukan untuk menyatukan agama maupun keyakinan di bumi ini menjadi satu. Tidak demikian. Keterbukaan itu untuk membuka penghalang/sel, bahwa tata cara kita berbeda tetapi tujuan kita sama. Manusia terkotak-kotak dalam agama dan keyakinan, tujuannya sama, menyembah kepada nilai-nilai tertinggi, diyakini, dapat memberi kedamaian, kesejahteraan, kebaikan.

Tata cara menuju nilai-nilai tertinggi itu berbeda. Cara berfikir dan memahami kedamaian, kesejahteraan, kebaikan berbeda. Tetapi tujuan kita 100 persen sama, yaitu damai-sejahtera-baik. Nilai-nilai itu bagian dari Tuhan, yang memiliki manusia dan segala keyakinannya.
Jangan tinggalkan agama dan keyakinan kita, tetapi temukan nilai-nilai tertinggi dalam Islam, Kristen dan Yahudi atau keyakinan lainnya. Sebab manusia akan menyatu dalam nilai-nilai tertinggi tersebut. Manusia berbeda pada metode, tetapi menyatu pada inti/substansi keyakinan yaitu Tuhan itu sendiri.
Bodoh sekali manusia membunuh hanya karena tata cara beribadah berbeda-beda. Padahal tujuan kita sama. apakah kedamaian, kesejahteraan, kebaikan itu milik satu keyakinan saja. kalau tidak, berarti Tuhan manusia sama dan hanya satu.


Sumber

Manusia Hebat Pasti Berpikir Universal

Ada penggalan kalimat menyatakan : “Pemimpin besar adalah pemimpin – pemimpin berfikiran universal, ide besar adalah ide-ide berradius universal, agama besar adalah agama-agama yang sarat nilai-nilai universal.”

Benar juga. Bila bercita – cita menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain, maka harus memberi manfaat kepada minimal orang-orang dekat. Semakin banyak melebarkan manfaat kepada orang lain, maka, semakin dekat menuju cita-cita untuk bermanfaat bagi orang lain.
Seseorang bercita-cita menjadi presiden di Indonesia, harus berkeinginan dipilih seluruh rakyat di seluruh provinsi. Atau paling tidak 50 persen dari jumlah pemilih harus memilihnya, maka jadilah orang itu presiden.

Seorang Muhammad SAW dipastikan berpikir dan bertindak universal. Umat diwajibkan berpikir dan bertindak bersama-sama, seragam, seide, sekiblat, sebahasa. Kewajiban Ibadah dijalankan dengan aturan waktu universal oleh seluruh umat dari berbagai suku bangsa di dunia. Semakin banyak umat manusia yang mengikuti , semakin sukses Muhammad SAW mengemban misi ilahiah di bumi.

Begitupun dengan manusia hebat lainnya. Siapa saja, dimana saja dan kapan saja, manusia itu berpikir universal maka efeknya juga akan berpengaruh kepada tindakannya, dipastikan menjadi universal. Bukan hanya Muhammad, nabi-nabi sebelumnya juga berpikir universal untuk mengabarkan gagasan universal ke-Tuhanan.

Para filosof semakin dipuja apabila pikiran-pikiran yang disampaikan diterima oleh manusia dari generasi ke generasi. Phitagoras, Sokrates, Plato, Aristotles hingga kini masih terus dan akan terus dikenal sebab mereka menyampaikan ide-ide universal sehingga apa yang disampaikan tidak basi termakan zaman.
Imanuel Kant, Hegel, Marx, Jean Jacques Rousseau, Rene Descartes, John Locke dan tokoh – tokoh yang menyebarkan gagasannya, kemudian diterima dari massa ke massa, maka dipastikan apa yang disampaikan syarat dengan muatan kebenaran. Dan ketika muatan kebenaran itu memiliki radius yang panjang, bahkan sepanjang massa, maka itulah gagasan universal.

Pemimpin besar adalah pemimpin yang pasti berpikir universal. Ingin menjadi orang hebat, maka berfikirlah universal, sebab semua orang hebat selalu berpikir dan bertindak universal.

3 Juni 2011

Tuhan yang Bicara

Mungkin kalau Tuhan bisa bicara langsung kepadaku aku pasti akan takut. Karena tiba-tiba muncul dihadapanku sosok yang tak ku ketahui. Kemudian aku akan kabur, lari terbirit-birit.
Oleh karena itu Tuhan belum mau menampakkan diriNya. Tuhan akan menampakkan dirinya melalui sesuatu entah itu nyata, bisa kita rasakan ataupun tidak, bisa juga tidak nyata, dalam mimpi, misalnya. Bisa saja sosok Tuhan ada dalam diri masing-masing, koq bisa??? Begini, Sifat Tuhan yang pemaaf, pasti setiap orang punya sifat itu kan? Sifat Tuhan yang murka, siapa yang tidak murka kalau sudah merasa muak dengan keadaan yang tidak diharapkan. Syekh Siti Jenar memiliki paham Manunggaling Kawula Gusti, yaitu sifat Tuhan ada dalam diri manusia.

Mengenai Tuhan bicara, kalau saja aku bisa mendengar pasti rasanya seperti bergetar, darimana suara itu datang, dan bertanya-tanya "siapa itu?". Tetapi menurutku Tuhan akan menunjukkan hal-hal yang terjadi pada diri masing-masing cara bicaraNya seperti itu. Bersyukur aku masih memiliki orang tua untuk kusayangi dan orang tuaku lebih dan sangat sayang padaku, sebab kalau aku juga punya pasangan aku akan berbagi rasa sayang. Jadi Tuhan belum memberiku pasangan karena dia mungkin bicara "Sayangilah orangtuamu dulu, nak.. karena beliaulah yang merawatmu, membimbingmu dan membesarkanmu, kelak kamu juga akan seperti beliau, kemudian kau akan kuberi pasangan dan sayangilah ia karena ia juga akan merawatmu dan menjagamu begitu juga sebaliknya... Lalu besarkanlah dan bimbinglah anakmu kelak."

Terima kasih Tuhan...